Perkembangan dan Macam Statement Analysis

Pada tahun 1954 Udo Undeutsch (baca : Udo Andoich) –seorang Psikolog Jerman Barat –adalah orang pertama yang menggunakan metode statement analysis untuk mengungkap kebenaran kasus pemerkosaan remaja 14 tahun. Sehingga tahun 1955 pengadilan di Jerman Barat mewajibkan penggunaan wawancara statement analysis dan penilaian kredibilitas dalam kasus yang disengketakan.

Tahun 1963,  Swedia menggunakannya sebagai metode untuk memastikan kredibilitas saksi anak-anak di dalam kasus pelecehan seksual. Kredibilitas anak dalam kasus pelecehan seksual sangat penting, terutama bila tidak ada saksi atau bukti fisik yang menguatkan.

Tahun 1987, Avinoam Sapir, seorang ahli Poligraf dari Israeli Police Department di Jerussalem, merumuskan kriteria-kriteria tertentu sehingga memudahkan orang lain untuk menggunakannya. Metode yang dikembangkan oleh Sapir ini disebut SCAN (Scientific Content Analysis).

Tahun 1988, Khonken dan Steller mengembangkan statement analysis menjadi sebuah prosedur penilaian (assessment) yang lebih formal yang disebut Statement Validity Analysis (SVA). SVA menggunakan kriteria standar yang disebut dengan CBCA (Criteria-Based Content Analysis)

Sejak tahun 1988 hingga sekarang, belum ada riset ilmiah mengenai pembaruan kriteria di dalam statement analysis. Salah satu riset tentang statement analysis adalah riset yang dilakukan seorang sarjana sastra dari University of Maryland University College di Amerika yang salah satu hasil penelitiannya diterbitkan dalam Jurnal Riset Speech, Language, and the Law tahun 2006 yang berjudul Indicators of Veracity and Deception : An Analysis of Written Statement Made to Police. Prof Susan Adams adalah seorang FBI Special Agent dari tahun 1983-2014, namun saat ini masih mengajar sebagai instruktur di FBI Academy Interviewing and Communication. Jadi artinya statement analysis juga digunakan di berbagai instansi hukum di Amerika.

Prof. Susan Adams